4 Mitos Keliru Tentang Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Sabtu, 14 November 2020 Share to
4 Mitos Keliru Tentang Penyakit Paru Obstruktif Kronis

Penyakit paru obstruktif kronik, disingkat PPOK, seringkali membuat penderitanya kesulitan untuk bernapas karena memang mempengaruhi saluran dan kantung udara. Ada banyak mitos beredar mengenai penyakit ini, yang membuat banyak pasien terlambat mendapatkan penanganan yang tepat. 

Dilansir dari laman situs Kompas.com, menurut Kathrin Nicolacakis, ahli paru dari Cleveland Clinic, berikut adalah 4 mitos umum tentang PPOK.

  1. Cuma perokok yang mengalami PPOK 

Penyakit paru obstruktif kronis memang seringkali disebabkan oleh kebiasaan merokok. Tetapi mereka yang tak merokok pun juga bisa terkena penyakit ini. Data dari National Institutes of Health AS mengungkapkan 42% penderita PPOK merupakan mantan perokok, 34% perokok pasif, dan 24% sisanya adalah mereka yang tidak pernah merokok. 

  1. PPOK tidak ada pengobatannya

Faktanya, ada banyak metode pengobatan yang bisa dilakukan untuk pasien PPOK. Tetapi, Nicolacakis mengungkapkan bahwa metode tersebut memang hanya berfungsi untuk mengontrol gejala supaya kondisi pasien semakin membaik. Salah satu cara untuk mengontrol gejala PPOK adalah dengan menjauhi gaya hidup merokok, menerapkan pola makan sehat, dan rutin olahraga. Melakukan vaksin influenza dan pneumonia juga bisa dilakukan untuk mencegah penyakit serius yang bisa memicu PPOK. 

Tidak hanya itu, pasien PPOK juga perlu mengonsumsi obat tertentu untuk menghindari komplikasi. Obat yang diberikan oleh ahli medis biasanya berupa inhaler untuk membuka saluran udara atau mengurangi peradangan saluran napas. Ahli medis juga bisa memberikan oksigen tambahan, dan infus alfa-1-antitripsin kalau pasien mengalami defisiensi bawaan. Untuk mengurangi peradangan, ahli medis bisa memberikan enzim PDE4. 

  1. Berhenti merokok itu percuma 

Setelah didiagnosa PPOK, tidak sedikit yang kemudian berpikir tidak ada manfaatnya berhenti merokok. Faktanya, tidak ada kata terlambat untuk berhenti merokok. Kerusakan paru-paru karena PPOK memang bersifat kumulatif. Dengan kata lain, berhenti merokok memang tidak bisa mengatasi kerusakan paru-paru yang sudah terjadi. Tetapi, menghentikan kebiasaan merokok masih memiliki banyak manfaat. 

  1. Olahraga sulit dilakukan pasien PPOK 

Sesak napas, yang menjadi salah satu gejala PPOK, memang membuat penderita menjadi lebih sulit melakukan olahraga. Tetapi, ada langkah lebih lanjut yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya. Pasien bisa meminta bantuan ahli medis untuk melatih teknik pernapasan, latihan, dan saran nutrisi yang tepat untuk mengelola gejala PPOK. 

Pasien PPOK bisa melakukan olahraga selama 20 hingga 30 menit sebanyak 3-4 kali seminggu. Tidak hanya olahraga kardio, pasien juga bisa melakukan peregangan dan latihan kekuatan. Ketika berolahraga, pastikan untuk menghembuskan olahraga secara perlahan. Lakukan olahraga setelah satu setengah jam usai makan.

Semoga informasinya bermanfaat!

 

Referensi: https://health.kompas.com/read/2020/10/09/092608168/4-mitos-keliru-mengenai-penyakit-paru-obstruktif-kronis?page=all.

Share to